Perempuan Tidak Pernah Salah!

“Aku sadar kalau sering membuat kamu marah. Tapi aku tidak punya indera ketujuh yang bisa membaca pikiranmu. Aku mau kamu bicara. Apa susahnya bilang?” Teo berbisik pelan.

Leony berbalik, memandang mata biru Teo. Kesal.

“Kamu memang nggak bisa mengerti aku!”

Leony berlari dengan bercucuran airmata. Musik mengalun pelan. Meninggalkan Teo yang termangu keheranan. Lalu ada seekor elang yang menyambar Leony pergi. Teo dengan berang mengambil pedang di sakunya dan bertarung dengan naga.

“Yaelaaah!!! Film apaan ini?” Arman menukar saluran televisi dengan kesal. Jari-jarinya menindis tombol remote dengan cepat. Program-program televisi yang semakin aneh membuatnya geleng-geleng kepala. Kok bisa ada elang dan naga dalam satu layar kaca? Bertengkar pula sambil diiring alunan musik india. Apa pula itu Ibu-ibu paruh baya bergoyang tanpa malu hanya untuk selembar seratus ribu? Eh, tunggu dulu. Itu presenter berita apa sedang sakit mata? Ada apa dengan tatapannya yang dibuat-buat ala-ala setajam pecahan kaca?

Arman menengok jam tangannya. Kalau tidak salah, dia sudah duduk di depan televisi selama kurang lebih satu setengah jam. Menunggu Adinda, istrinya yang sedang berdandan, keluar dari kamar. Sedikit lagi dia bakal ketagihan air putih dan kacang almond yang terus menerus dikonsumsinya karena bosan menunggu. Dia sudah bolak-balik kamar kecil dan berulang kali menyemir sepatunya.

“Sayang, masih lama ya?” Akhirnya Arman membuka suara.

“Sedikit lagi. Aku tinggal ngerapihin alis.” Suara Adinda yang merdu terdengar riang dari balik pintu.

Arman menghela nafas. Seperti biasa, setiap kali mereka akan keluar rumah, entah untuk pesta pernikahan, jalan-jalan ke Mall, atau sekedar jogging di pagi hari, Arman harus bersedia menunggu. Adinda tidak bakal mau keluar rumah sebelum tampak segar dan kinclong. Caranya berpakaian dan memadupadankan gaya selalu luar biasa. Arman sih tidak ada masalah. Toh, keterampilan Adinda itulah yang membuatnya selalu betah tinggal di rumah. Tapi kadang-kadang, efisien tidak lagi diindahkan. Arman yang simple kadang dibuat uring-uringan karena harus mengikuti ritme Adinda. Apalagi soal belanja. Arman pernah hampir tidak bisa berjalan pulang setelah diajak tawaf keliling Mall hanya untuk membeli selembar celana. Lebih melelahkan dibanding sejam bermain futsall bersama teman-temannya.

Tepat pukul 07.30 petang, Adinda keluar dari kamar. Lengkap dengan kebaya merah maroon dan make up yang membuatnya kelihatan mempesona. Arman seketika melupakan kekesalannya. “Ah, Istriku memang cantiknya juara!” Batinnya.

“Yuk! Kamu kenapa lagi masih duduk nonton di situ? Nanti kita telat nih!” Omel Adinda sambil merapikan kerah baju Arman.

“Yang ada juga kamu yang bikin kita telat.” Gumam Arman sambil membuka pintu depan.

“Ngomong apa kamu tadi?” Tanya Adinda.

“Ah, Nggak apa-apa,sayang. Yuk!” Ajak Arman sambil tersenyum. Lebih baik gencatan senjata di muka daripada Adinda ngamuk-ngamuk sampai perang dunia ketiga.

***

“Aku heran dengan istriku. Kami berpacaran kurang lebih 3 tahun lamanya dan sudah 1 tahun menikah, tapi masih saja kurasa sulit mengerti kelakuannya.” Arman membuka suara sambil mengepulkan asap rokok. Di depannya, Na’, sahabatnya sejak bangku kuliah, mengangguk setuju. Rupanya mereka sedang membahas pasangan-pasangan mereka. Tema yang sebenarnya sudah sangat mainstream dibahas. Hampir setiap mereka nongkrong di warkop atau bercanda lepas di media sosial, masalah ini selalu punya tempat tersendiri untuk jadi bahan obrolan.

“Hahaha! Saya mengerti maksudmu, bro! Kayaknya sudah beberapa kali kita membahas masalah ini. Seperti tidak ada habisnya.” Na’ mengiyakan kata-kata Arman. Diseruputnya segelas kopi hitam tanpa gula di depannya lalu terkekeh pelan.

“Nah! Kamu tahu ‘kan kalau kita pria suka segala-galanya yang mudah dicerna di kepala? Bukan hal ribet yang bikin pusing. Eh, malah sering dikatai tidak peka lah, tidak mengerti lah, sudah tidak sayang lah. Aku jadi uring-uringan dibuatnya.” Keluh Arman.

“Ada yang bilang kalau seorang Perempuan bilang ‘tunggu 5 menit’, artinya kamu masih bisa menghabiskan segelas kopi, membaca Koran pagi, dan mencuci mobil di garasi. Seakan-akan mereka punya rentang waktu tersendiri dalam benak mereka. Belum lagi dengan urusan pakaian yang meskipun ada selemari penuh, selalu dianggap tidak ada yang cocok rasanya. Benar-benar aneh.” Sambung Arman sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mengingat kejadian dua hari yang lalu saat Adinda mengajaknya menghadiri pernikahan sahabat mereka.

“Kemarin aku sempat berargumen dengan Mita. Rencananya kami akan menikah 2 bulan lagi. Kupikir, tidak ada salahnya sedikit menjaga jarak dan masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing. Daripada nanti kami merasa bosan. Toh urusan pernikahan sudah diserahkan pada Wedding Organizer. Eh, ujung-ujungnya aku yang kena omelan. Menurut Mita seharusnya kami malah tambah kompak. Kemana-mana menempel serupa perangko. Dan konsep yang dia katakan tak bisa dibantah. Katanya, Man goes to the left because woman is always right. Kayaknya dia kebanyakan baca caption-caption instagram yang mendukung ide ‘Perempuan tidak pernah salah’.” Papar Na’

“Siapa sih yang memulai istilah itu?” Cecar Arman.

“Kalau tidak salah, Mario Teguh di dalam akun-akun media sosialnya biasa membuat istilah-istilah seperti itu. Yang terakhir aku lihat, Mario Teguh membuat istilah yang dengan singkat menjadi fenomena ikon ‘Perempuan tidak pernah salah’. Kalaupun dia salah, sebabnya  ya karena si pria.” Ungkap Na’.

“Tunggu sebentar. Aku punya beberapa gambar yang bisa jadi sumber inspirasi kita untuk ide tentang ‘Perempuan Tidak Pernah Salah’ ini.” Na’ mengeluarkan smartphone-nya dan menunjukkan beberapa gambar pada Arman.

24-Comics-About-What-Its-Like-To-Be-A-Girl-By-Agustina-Guerrero

“Gambar ini menunjukkan bagaimana mood seorang perempuan saat terjadi masalah diantara dia dan pasangannya. Judulnya Steps From Discussion to Reconciliation, Langkah-langkah dari Diskusi ke Rekonsiliasi. Perempuan itu punya swing mood yang mengagumkan. Saat bertengkar dengan pasangannya, dibandingkan si pria yang lebih tenang saat menghadapi masalah, Perempuan punya pemikiran-pemikiran tersendiri yang kadang cuma dia yang tahu artinya. Padahal ujung-ujungnya yang dia perlukan hanya bujukan agar tidak terus-menerus marah.” Na’ menjelaskan tentang gambar pertama yang dia tunjukkan. Jarinya menggeser ke bagian bawah dan menunjukkan gambar lainnya.

24-Comics-About-What-Its-Like-To-Be-A-Girl-By-Agustina-Guerrero (3) - Copy - Copy

“Dapat darimana gambar-gambar ini?” Tanya Arman.

“Saya unduh dari www.9GAG.com. Judulnya ’24 Comics About What It’s Like To Be A Girl Karya Agustina Guerrero. Lihat gambar-gambar ini juga.” Na’ menunjukkan gambar-gambar lainnya.

24-Comics-About-What-Its-Like-To-Be-A-Girl-By-Agustina-Guerrero (2) - Copy

24-Comics-About-What-Its-Like-To-Be-A-Girl-By-Agustina-Guerrero (2)

“Perempuan ternyata bisa menelanjangi ide tentang dirinya dengan begitu gamblang di komik-komik ini. Cara cerdas untuk menunjukkan bagaimana pribadi seorang perempuan tanpa menyinggung secara langsung. Intinya perempuan itu punya variasi mood yang membuat mereka selalu bisa menempatkan diri mau ada dimana. Mereka bisa jadi apa saja asalkan mereka tahu memanfaatkannya.” Arman memberi komentar singkat.

“Kira-kira kenapa seorang perempuan bisa menanamkan ide itu di pikirannya?” Tanya Na’.

“Ide ‘Perempuan Tidak Pernah Salah’?” Arman bertanya balik.

“Benar sekali. Mungkin sebagai pria yang kita harus tahu hanyalah bagaimana bisa menghadapi perubahan drastis yang mereka punya. Meskipun tetap dengan tagline ‘Perempuan Tidak Pernah Salah’ dalam kepala.” Na’ mengungkapkan pikirannya.

“Aku rasa karena stigma yang melekat pada diri perempuan. Mereka kebanyakan memikirkan setiap masalah dengan perasaan dan bukan dengan logika. Hal ini yang membuat mereka sangat sensitif.” Arman menjelaskan sambil mencomot barongko yang sempat terlupakan.

“Ah, tapi aku juga menemukan banyak perempuan yang sangat rasional dalam bertindak. Mereka bisa mengambil keputusan dengan bijak. Mungkin karena punya sisi kelembutan, mereka tidak serta merta terjun langsung sebelum memilih sesuatu. Mereka berpikir berulang kali. Nah, hal ini yang biasanya membuat mereka gampang galau dan gamang menentukan pilihan.” Sanggah Na’. Diminumnya lagi kopinya yang sudah dingin.

“Sepertinya berbicara tentang perempuan tidak ada habisnya, ya? Mereka selalu punya hal baru untuk ditelaah lebih jelas.” Gumam Arman.

“Aku yakin, bro! Kaum perempuan juga kadang-kadang dibuat pusing dengan kita. Padahal dalam waktu-waktu tertentu, kita butuh juga didengarkan dan butuh mereka untuk bilang langsung apa yang mereka inginkan. Bukan hanya bilang ‘terserah’ dan ‘tidak apa-apa saja’.” Kata Na’.

Sebuah nada dering dari arah saku kiri Arman menyela percakapan seru mereka. Arman merogoh sakunya dan segera melihat layar panggilan di hadapannya. Adinda.

“Halo, Sayang. Iya, aku sudah mau pulang kok. Iya, sebentar lagi. Aduh, nggak kok sayang. Ini lagi sama Na’ di warkop dekat kantor. Siap! Terang bulan keju yang nggak pakai susu ‘kan? Apa? Minta Terang Bulannya tipis-tipis. Memang bisa? Aduh, iya iya sayang. Aku usahain. Oke, Aku beliin sekarang. Dah sayang!” Arman tersenyum malu setelah mengakhiri panggilan teleponnya. Na’ tertawa terbahak-bahak di depannya. Adinda yang sedang hamil muda akhir-akhir ini memang suka aneh-aneh saja keinginannya. Bawaan bayi katanya setiap kali Arman mengeluh heran.

“Ya, mau sampai kapanpun juga memang sepertinya rasa cinta dan sayang kita pada pasangan yang buat kita mau menerima si Perempuan tidak pernah salah ini. Bukankah yang terpenting adalah membuat mereka bahagia?”

Na’ mengangguk setuju. Cinta. Sepertinya itu saja kunci utamanya.

***

Advertisements

8 thoughts on “Perempuan Tidak Pernah Salah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s