Tak Bisa Memiliki

“Jangan salahkan aku kalau gaunmu tak muat nanti.”

Gadis di depannya menghentikan suapan dari piringnya yang ketiga.

“Tentu aku akan menyalahkanmu. Memasakkanku sambal udang seperti ini, mana aku tahan tidak tambah berulang kali?” Protesnya.

Lelaki itu tersenyum simpul sambil menuang air dingin. Tidak ada yang berubah bahkan sejak dia pergi 10 tahun yang lalu ke Belanda. Gadis itu masih sama persis seperti yang diingatnya. Dua mata yang berbinar setiap kali bercerita tentang kucing-kucingnya, lesung pipi yang dalam di kedua pipinya, dan bibir tipisnya yang merah alami tanpa pulasan apa-apa.

“Kamu harus mengajariku memasak masakan ini.” Desaknya.

“Apa kamu bisa sabar mendengarkanku mengoceh dan memberi instruksi, Arumi?” Tanyanya.

“Bi…” Kata-kata Arumi menggantung di udara.

“Pilih mengajariku atau kuhabiskan semua isi kulkasmu?”

Bian tertawa melihat tingkah polahnya. Tidak ada yang berubah. Seperti perasaannya.

***

Sebulan yang lalu

“Pulanglah, nak! Sudah terlalu lama ibu tidak melihat langsung wajahmu.” Suara di ujung telepon menggetarkan hati Bian. Membawanya kepada kerinduan yang mendalam.

Bian terdiam sesaat. Tidak langsung berkata. Sudah terhitung 10 kali puasa dia tidak kembali ke indonesia. Bukan karena tidak punya dana untuk pulang, tapi Bian memutuskan tinggal disana dan jauh dari kenangan soal indonesia. Ada beberapa hal yang ingin dia kubur. Sudah  berulang kali dia mengajak ibunya untuk ikut tinggal di Belanda. Tapi ibunya selalu menolak.

“Ibu tidak tega meninggalkan ayahmu, nak.” Kata Ibunya setiap Bian mencoba mengajaknya.

Pemikiran yang tidak masuk akal. Bukankah sudah tidak ada yang perlu ditunggu lagi dari sana? Ayah yang dimaksud ibunya adalah seonggok tanah dengan papan yang bertuliskan nama. Tidak ada yang tersisa. Bian masih belum bisa mengerti soal rasa cinta ibu pada ayahnya. Tentang kesetiaan tak terbatas ibunya pada lelaki itu.

“Saya belum bisa pulang, Bu. Ada banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggal di sini.” Bohong besar.

Satu lagi kecewa yang Bian tumpuk di kepala ibunya. Didengarnya hela nafas berat ibunya di ujung telepon.

“Ingat, nak. Ibu tak muda lagi. Ibu hanya ingin melihatmu sebelum menyusul ayahmu pergi.” Kata Ibunya.

Bian mengiyakan kata-kata ibunya dan berjanji. Dia akan pulang nanti. Tidak disebutnya tanggal pastinya. Sebelum mengucap salam, sekali lagi ibunya berbisik pelan.

“Arumi akan menikah. Tak maukah kamu kembali?”

Ada yang pecah di dalam dadanya.

***

Bian menatap album foto yang dikeluarkannya sesaat setelah menutup telepon dari ibunya. Ada kerinduan yang membuncah saat dia membalik-balik foto di hadapannya. Kerinduan akan masa lalu. Saat dia tidak tahu apa-apa.

Sedari kecil Bian memiliki cita-cita. Betapa dia ingin bisa terbang ke semua benua dan memerangkap momen dengan kamera. Menjadi fotografer sudah tertulis di benaknya setelah sebuah kamera polaroid dihadiahkan pada hari ulang tahunnya yang kesebelas. Hari ulang tahun yang paling dia ingat. Bukan saja karena kamera barunya, tapi juga karena kehadiran seorang pendatang baru di rumahnya.

Bian masih ingat. Dia tengah menimang-nimang hadiahnya itu dengan sayang saat ayahnya masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan seorang gadis kecil berbaju putih. Pandangannya begitu jenaka dengan senyum manis dihias dua lesung pipi yang dalam. Gadis kecil itu menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya. Berisi coklat kesukaannya. Bian menarik gadis kecil itu ke taman depan rumahnya dan mencoba kamera barunya. Meninggalkan tamu-tamu pesta ulang tahun yang mulai menyemut di meja makan.

Gadis kecil itu bernama Arumi. Awalnya Bian tidak pernah tahu siapa gadis kecil yang dibawa ayahnya itu ke dalam rumah. Tidak pernah bertanya karena terlupa. Ditutupi rasa senang karena akhirnya punya teman bermain setelah sekian lama hidup sebagai anak tunggal.

Tumbuh besar bersama, memasakkan masakan kesukaannya, memotret semua perjalanan berdua. Yang Bian tahu tak ada yang mengerti dirinya lebih dari Arumi. Dan entah sejak kapan, Arumi mendapat tempat khusus di dalam hatinya.

***

10 tahun yang lalu

“Ayah ingin menemuimu.” Arumi menyentuh ujung jarinya pelan.

Bian tersentak. Dia baru saja jatuh tertidur di kursi tanpa lengan itu. Sudah dua hari dia berjaga di rumah sakit. Ayahnya terkena serangan jantung lagi. Dia melangkah dengan berat ke kamar ayahnya di seberang pintu. Menatap tubuh kuat ayahnya yang akhirnya menyerah karena penyakit jantung yang sudah menahun. Bian menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.

“Tahukah kamu kalau Ibumu adalah wanita paling luar biasa yang pernah ayah miliki?” Suara ayahnya terdengar serak. Berusaha bernafas dengan bantuan selang di hidungnya.

Bian tidak menjawab. Menunggu kata-kata ayahnya.

“Ayah tidak pernah pandai berahasia. Bukan kebiasaan ayah untuk menyembunyikan sesuatu. Terutama kepada ibumu. Tidak ada satupun isi kepala ayah yang tidak diketahui olehnya. Tapi ada satu hal yang masih tak bisa dengan jelas ayah sampaikan padanya. Dan ibumu bukan orang yang suka curiga. Dia adalah wanita yang bisa menerima. Meskipun mungkin firasatnya mengatakan yang tidak biasa, ibumu masih bisa tersenyum dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Ibumu bahkan tidak menyalahkan ayah saat berbuat salah sebesar apapun Ibumu mengerti. Dan belajar untuk akhirnya tidak mau tahu terlalu banyak.” Ucap ayahnya sambil memandang ke atas. Seperti membaca tulisan yang tak terlihat di atas plafon rumah sakit.

“Kamu ingat, saat pertama kali bertemu dengan Arumi dulu, dia mengenakan satu-satunya baju putih yang dia miliki. Baju berkabung untuk kematian ibunya. Istri keduaku.”

Bian memandang ayahnya dengan pandangan tidak percaya. Mimpikah dia?

“Maukah kamu memaafkan Ayah, Fabian?”

***

Bian mengepak barang-barangnya dengan cepat. Surat pengumuman beasiswa dan panggilan magang di sebuah stasiun TV internasional yang memiliki cabang di Belanda tergeletak di samping kopor-kopornya. Bian tidak memperhatikan sekitarnya dan tidak menyadari ibunya sudah ada di dekatnya.

“Haruskah kamu pergi, Bian?” Tanya Ibunya.

“Aku harus mengejar cita-citaku, bu. Bukankah ini yang sejak awal aku impikan?” Jawab Bian singkat. Alasan yang dibuatnya demi bisa meninggalkan semuanya.

“Ada hal-hal dalam hidup yang butuh dikorbankan untuk mendapatkan hal yang jauh lebih baik. Bukan karena tidak peduli, tapi karena tahu pengorbanan yang ada itu akan berbuah manis nantinya. Itu yang ibu pelajari dari ayahmu. Hal yang sepertinya menurun padamu.” Kata Ibunya lagi. Terdiam melihat perubahan air muka Bian.

“Ibu tahu. Tidak mudah menerima apa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Mungkin itu sebab banyak orang yang lebih suka mendengar kebohongan karena tidak bisa menerima pahit kenyataan. Ibu mengerti.” Ibu mengusap kepala Bian dengan sayang. Mencoba menguatkan hati Bian yang hancur. Dia tidak hanya kehilangan ayahnya saja. Tapi juga Arumi dan rasa percayanya pada manusia. Tidak akan ada kisah yang bisa mereka miliki. Tidak akan bisa. Jauh di lubuk hatinya, Bian mengutuk semua keadaan. Mencoba menyalahkan entah siapa.

***

“Apa yang akan kamu lakukan kalau bisa mengembalikan waktu?”

Arumi bersuara di tengah keramaian bandara. Ibu Bian tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa berhenti menangis.

“Kurasa aku akan menemui gadis yang kusayangi dan membawanya pergi jauh. Tidak berpikir dua kali lagi.” Kata Bian.

“Masihkah ada perasaan getir yang kamu rasa setiap gadis itu menceritakan tentang orang lain?” tanya Arumi. Teringat kisah-kisah yang Bian sampaikan padanya dulu. Tentang seorang gadis yang disayanginya.

“Tidak lagi. Yang ada sekarang hanya rasa kebas dan tuli. Kelihatannya mungkin aku tertawa bersamanya, tapi pikiranku menerawang jauh. Aku tidak mungkin bisa berpura-pura tanpa menyakiti diriku sendiri.”

Arumi menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Meremas-remas kedua tangannya yang dibasahi keringat dingin.

“Tenang saja. Kamu tidak usah menatapku seperti itu. Aku akan belajar menerima kenyataan bahwa suatu saat nanti gadis itu akan bersanding dengan orang lain.” Bian memaksakan senyumnya dan mengacak-acak rambut Arumi.

Dia melangkah ke terminal pemberangkatan tanpa berbalik lagi. Berniat tak ingin kembali. Pulang adalah hal yang akan dia buang jauh-jauh dari benaknya.

***

Masa kini, 10 tahun kemudian

Tidak ada yang berubah. Kamarnya masih sama seperti yang dia tinggalkan dulu. Rumah mereka masih sama hanya ditambah beberapa pernak-pernik yang biasa ada di rumah yang akan menyelenggarakan pernikahan. Sepiring sambal udang dan tempe mendoan buatannya sudah terhidang di meja. Arumi mengunyah sebagian besar dari yang ada. Ibunya tak henti-henti menatap dan mengusap lembut kepalanya. Seakan tak ingin melepaskan anak laki-laki satunya lagi.

Bian memandang sekeliling rumahnya. Lalu terpaku pada sebuah potret keluarga. Ayahnya dengan senyumnya yang berkharisma memandangnya dari balik kaca. Ada rasa nyeri yang familiar di hatinya. Bersama rasa kecewa yang tidak bisa dia bendung. Bian mungkin sudah belajar menerima kenyataan bahwa Arumi suatu saat akan dimiliki oleh orang lain. Menerima semua kemungkinan serupa itu. Tapi Bian tidak pernah belajar cara melanjutkan hidup tanpa dihantui luka di hatinya. Dia ingin belajar. Melepaskan. Mungkin dia benar-benar harus belajar. Bahwa masa lalu itu ada untuk menjadi pelajaran. Bukan sebagai beban.

***

“Kenapa kamu kembali, Bi? Kenapa sekarang?”

Bian berdiri tegak di kamar Arumi. Dengan jas hitamnya. Bersembunyi dari orang-orang. Dia ingin mengakhiri siksaan di benaknya oleh sebuah pertanyaan.

“Karena aku tidak bisa lagi menunggu. Aku cuma mau tahu hatimu. Itu saja.”

Arumi berbalik dan menyusutkan airmata. Maskara meluntur di sudut matanya.

“Sayangnya aku tidak bisa memilih lagi. Maafkan aku.”

“Aku tidak minta dipilih. Tidak akan mungkin. Sampai kapan pun kamu tak akan pernah kumiliki. Hanya jawab aku sekarang. Pernahkah ada aku di antara kita?”

Ditatapnya pengantin bergaun putih ungu itu dengan lembut.

“Perlukah lagi sebuah pertanyaan yang sudah selalu ada jawabannya, kak?”

Itu saja yang ingin dia dengar.

www.sabusinessindex.co.za.jpgSumber Gambar : http://www.sabusinessindex.co.za

***

Advertisements

One thought on “Tak Bisa Memiliki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s