Tante 21 dan Pemuda Bernama Lentera (Serial 7 Kasus Tante 21)

image

Sumber gambar : https://www.instagram.com/p/BCxXYqygQgi/

Halo. Namaku 21. Bukan nama asli tentu saja. Tapi pekerjaanku membubuhkanku kode agar nama asliku tak terjejak. Hari ini, akan kumulai mengisahkan kasus-kasus milik pelangganku yang tak biasa. Aku harap kalian bisa belajar darinya. Saranku hanya satu. Jangan cepat mengangkat topi karena hormat atau meludah karena jijik. Biarkan lewat dulu. Karena di ujungnya, kalian akan belajar tentang makna menghakimi. Kalau bahkan partikel paling kecil sekalipun, punya kisah tersendiri.

***

Kasus pertama milik seorang pemuda bernama Lentera. Dia adalah pengusaha muda yang hidup yatim piatu sejak masih kecil. Hidup di panti asuhan, lalu tepat di usia 15 tahun memulai usahanya sendiri. Pontang-pantingnya menjajakan Keripik Singkong khas buatannya membuahkan hasil yang tidak terduga. Dalam kurun waktu di usianya yang masih muda, dia berhasil memecahkan rekor penjualan keripik singkong dengan omzet ratusan juta. Dia punya sebuah pabrik sendiri, ratusan karyawan, puluhan toko keripik singkong dengan aneka rasa, serta sebuah rumah megah di pinggiran kota. Sebuah kawasan elit yang bahkan untuk membuka pintunya memakai kunci sebuah remote elektronik dengan kode-kode tidak biasa. Dia kaya. Sangat kaya. Tapi kedatangannya padaku sekitar dua tahun lalu membuat aku sadar bahwa uang segepok sekalipun tak bisa membeli kebahagiaan. Meskipun mungkin kamu bisa mencurinya dari orang lain.

***

Lentera menemuiku seperti selayaknya pelanggan-pelangganku yang lain. Setelah transaksi dan kecocokan harga di awal, berikut transfer deretan angka bernol lebih dari tujuh, standar yang kupelajari sejak memutuskan profesional terjun dalam bisnis ini, dia mengajakku ke sebuah hotel bintang lima, memesan kamar suite dengan fasilitas oke punya, dan menyuruhku menghiburnya. Aneh rasanya karena dia tidak berniat sama sekali dengan model transaksi yang biasa. Dia bahkan tidak menyentuh sehelai benangpun di bajuku. Dia hanya memintaku menghiburnya.

Awalnya aku bingung harus seperti apa. Tapi dia tidak meninggalkanku dalam tanda tanya. Aku hanya harus mendengarnya bercerita. 6 jam penuh. Dahiku mengernyit heran. Tidak biasa tentu saja. Biasanya para pelanggan bakal langsung menghambur, menuntaskan nafsu yang memuncak di ubun-ubun.

“Aku tidak pandai memulai percakapan.” Aku mengaku sambil menuang teh dari poci putih di depan meja. Salah satu keanehan lagi. Aku terbiasa menuang alkohol ke gelas bening berkaki. Jadilah aku menghafal aneka jenis minuman yang membuat otak berkabut itu. Tapi tidak di sini. Aroma melati bercampur teh menguar. Mencairkan suasana.

Tawa pelan hadir dari diri Lentera. Kesan muda masih terpancar dari dirinya. Kasihan sebenarnya. Anak semuda dirinya sudah tahu dunia seperti milikku. Entah akan jadi seperti apa dunia nanti.

“Maukah kamu mendengarkan ceritaku? Sebelumnya, aku mohon. Berjanjilah tak akan membagi kisah ini pada siapapun. Aku tak pernah membahasnya dengan siapapun. Kecuali mungkin dokter pribadiku. Tapi kupikir kini saatnya membuka diri. Aku ingin membagi satu kisah hidupku pada orang lain. Dan kupikir, karena kebanyakan orang menyayangiku karena tumpukan uangku, sekalian saja kubayar kamu menjadi pendengarku.”

Ada keteguhan di balik rasa sakit dari sorotan matanya. Aku mengangguk pelan. Mungkin dia tidak tahu. Rahasia adalah makanan sehari-hariku. Mengungkapkan kisahnya sama artinya dengan mengungkapkan pekerjaanku sendiri. Pikiranku melayang. Teringat mulut-mulut yang harus kuberi makan. Tak pernah tahu apa yang kukerja. Hanya tahu fasilitas yang tak henti kuberi.

Tangannya mengaduk teh dengan 3 gula batu di hadapannya. Menghela nafas sedikit.

“Pernahkah kamu temui orang yang memilih tidak memakai kelaminnya seumur hidup?”

“Belum pernah selama ini. Rata-rata mereka mengagung-agungkan seks di atas segalanya. Yah, kamu tahulah. Orang-orang haus belaian yang tak mendapat kepuasan dari pasangannya. Yang kutahu hanya orang-orang yang tidak mau menikah. Enggan berkomitmen. Tapi tidak ada masalah dengan kelamin mereka.” Ujarku setelah berpikir sejenak.

Tanpa sadar sudah mengalun kata-kata dari mulutku. Belum pernah sebanyak itu. Tapi pemuda di depanku membuat tak ada lagi batasan dari diriku.

“Sejak kecil, aku tak pernah mengenal orang tuaku. Yang kutahu hanya pengasuh di panti asuhan yang merawatku sejak kecil. Mereka yang dibayar pemerintah untuk mengurusi anak-anak tanpa orang tua sepertiku. Awalnya mereka memperlakukanku dengan baik. Terlalu baik. Sampai ada satu orang yang merenggut keperjakaanku. Aku masih ingat. Wanita bertubuh ceking dengan wajah penuh jerawat dan nafas berbau tembakau. Usiaku baru 12 tahun saat itu. Wanita itu menjadi orang yang paling dekat denganku dahulu. Dan diraibnya kepercayaanku dalam beberapa menit.”

Aku menunggu. Dihirupnya teh pelan-pelan. Seperti membeku di tempat, tak aku tahu reaksi apa yang layak.

“Mungkin kamu tidak percaya. Tepat saat ulang tahunku yang ke-13, kupotong kelaminku. Dengan tanganku sendiri. Kuputuskan melakukannya setelah lebih dari 20 penghuni panti asuhan melakukan hal yang sama denganku. Perkosaan demi perkosaan. Hingga akhirnya kutahu apa yang salah. Dan aku tak bisa membiarkannya ada.”

“Kamu bisa menyebutku korban trauma, sakit jiwa, paranoid, dan sebagainya. Aku rasa tidak ada satu definisi pun yang bisa menjelaskan kondisiku. Setelah pulih, aku mulai menata hidupku. Melihat ke depan. Akhirnya tak ada lagi yang masih hidup yang tahu masalahku. Aku mulai hidup normal. Pindah ke tempat baru. Memulai satu-satunya hal yang kutahu. Membuat keripik singkong. Awalnya berat. Tapi pikiran tentang rasa takut masa lalu yang membuatku tidak bisa berhenti maju. Harus. Itu yang ada di benakku.”

“Lalu seperti yang kamu lihat. Seperti yang ditulis di majalah atau koran tentang figur orang sukses. Aku kaya raya. Tidak lagi kekurangan satu apapun. Wanita mengantri untuk menjadi pasanganku. Sempat ada sesal. Terlebih banyak akhirnya yang membuatku jatuh cinta. Tapi aku tak utuh seperti yang mereka tahu. Dan seumur hidupku, aku tak akan punya keturunan dari siapapun.”

“Kucoba membahagiakan diriku. Pesta-pesta, membagi uangku pada anak yatim piatu bernasib sama denganku, atau membeli banyak rumah dan tanah. Ujung-ujungnya aku tetap tidak merasa bahagia. Tidak bisa. Aku hampa luar dalam. Kelihatannya mungkin aku tersenyum. Menjawab dengan lugas semua pertanyaan di tv dan koran-koran. Padahal dalam hati aku tak bisa. Aku sempat menjadi jahat dengan mengambil usaha orang lain yang tidak memiliki modal sebanyak uangku. Sekali lagi aku tak bisa. Tak sanggup. Suara-suara di kepalaku membuyarkan semua kebahagiaan yang kususun diam-diam.”

Lentera tak menyambung kisahnya lagi. Ada menit-menit yang diwarnai sepi. Aku terdiam menatapnya yang tampak lebih tua sehabis bercerita. Bagaimana anak semuda ini tetap tegar mengangkat kepala dengan hal semacam itu pada dirinya?

“Aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku…”

“Tak perlu. Aku tidak butuh kata-kata.” Potong Lentera. Wajah tenangnya sedikit gusar. Bagai anak yang diganggu saat asyik bermain.

“Dengar. Aku tak punya hak disini. Kamu membayarku untuk mendengarkan. Aku lakukan tanpa suara. Tapi kamu harus tahu satu hal. Tak ada salahnya menciptakan bahagia untuk dirimu sendiri. Tidak ada sama sekali. Apapun yang kamu lakukan di masa lalu, bukan menjadi patokan bagaimana masa depan akan membentukmu. Kamu hidup untuk hari ini. Bukan untuk masa lalu.”

Kugenggam tangan di depanku itu sambil tetap menatap matanya. Aku baru sadar. Kedua manik mata itu berwarna cokelat terang. Kembali seperti anak kecil. Dia mengangguk dan tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?” Kataku. Beranjak pergi dari kamar hotel yang akhirnya tidak menjadi tempat bermalamku.

“Mendengarkan. Tak pernah ada perempuan yang tahan mendengar di sekitarku. Yang kutahu mereka hanya suka bicara.” Ucapnya.

Aku melengkungkan senyum terbaikku.

“Kamu cuma belum menemukannya. Ada banyak. Sedikit sabar akan berguna untuk mencarinya.”

Lalu kututup pintu. Meninggalkan pemuda itu di belakangku.

***

Dua minggu berselang sejak pertemuanku dengan pemuda itu. Hampir setiap malam ada pelanggan yang melakukan transaksi denganku. Tak sempat lagi memikirkan soal cerita pemuda itu. Sampai di suatu malam, di kamar remang-remang yang disewa pelanggan terakhirku, sebuah berita tengah malam membawa kabar tak terduga.

“Lentera Abimanyu, entrepreneur muda berbakat dan salah satu milyader indonesia, ditemukan tewas di bathtub rumah pribadinya. Penyelidikan polisi menemukan sebotol sianida di dekat mayat dan sepucuk surat warisan bertulis tangan dan bermaterai. Lentera meninggalkan seluruh kekayaannya untuk yayasan yang dibangunnya. Sejauh ini belum ada hasil penyelidikan baru ataupun pihak keluarga dan teman yang mengurus jenazah pemuda berusia 29 tahun ini.”

Dalam remang kususut airmata. Ada sebait doa teralun. Pemuda itu. Mungkin benar, bahagia tak semudah itu tercipta.

***

Advertisements

2 thoughts on “Tante 21 dan Pemuda Bernama Lentera (Serial 7 Kasus Tante 21)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s